 |
Awal tahun 2001, tepatnya 02 Februari 2001. Kuterima Mawar merahmu itu, Dan Kitapun berpadu janji, Hamparan ladang cinta yang membentang luas itu telah menunggu sentuhan tangan kita berdua. by : SYA and ABP
SYA
Bunda Mirza
Seorang wanita sederhana dengan segala kekurangannya yang mendambakan keluarga SAMARA (Sakinah Mawadah Warohmah) bersama suami dan anak tercinta
ABP
Ayah Mirza
Ayah adalah seorang lelaki tegar,mandiri,pengertian, baik hati,sangat setia dan sangat mencintai keluarganya
Mirza
M. Mirza R.Prasetyo
Mirza lucu, Mirza Imut , Mirza Menggemaskan
Friends :
Sesunggunya orang-orang yang mengatakan," Rabb kami adalah Allah", kemudian mereka meneguhkan pendiriannya,maka tidak ada kekawatiran terhadap mereka dan mereka tiada pula berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni syurga, mereka kekal didalamya sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan"(Q.S al-Ahqaaf:13-14) Favorite links : Situs eramuslimDetikRepublikaOptimisme adalah Pola Pikir ceria yang memungkinkan sebuah poci teh menyanyi meski mulutnya penuh dengan air panas [taken from chicken soup for unsikable soul ] )Human beings, by changing the inner attitudes of their minds, can change the outer aspects of their lives. William James (1842 - 1910Seekor burung bertanya pada Ilalang Jika semua memiliki makna yang berbeda tentang Cinta Apa makna cinta menurutmu ? Ilalang menjawab seraya Merunduk : Cinta bagiku Adalah Tetap tumbuh diatas bongkahan tanah Hingga Badai tak menghamburkan butirannya
(by Afifah Afra)
AKU INGIN aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu aku ingin mencintaimu dengan sederhana lewat isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada ~Sapardi Djoko Damono~
Jangan melangkah ke arah keputusasaan, di dunia terhampar berjuta harapan... Jangan berjalan menuju arah kegelapan, di alam ini terdapat banyak cahaya [Anonim]
RUMAH CINTAKU karya : Amir Rhamdani
kubangun rumah cintaku dari tumpukan sampah, debu, dan kotoran yang mengendap di atas selokan semakin megah dari bangkai dan tulang-tulang membusuk yang berserakan
kubangun ranjang tidurku dari harapan dan kasih sayang bantalku adalah kesabaran selimutku adalah ketenangan di sinilah putra-putri kami lahir dan dibesarkan Agar dapat membahagiakan seseorang, isilah tangannya dengan kerja, hatinya dengan kasih sayang, pikirannya dengan tujuan, ingatannya dengan ilmu yang bermanfaat, masa depannya dengan harapan, dan perutnya dengan makanan." (Frederick E. Crane)Maaf jika isi blog ini kurang bermutu, ini hanyalah sekedar pengisi waktu ketika rasa bosan menderaku, uneg-uneg catatan pribadiku (online logbook ku) or sedikit opini-opini dangkal yang keluar dari sel-sel kelabu dikepalaku..
Member Of :
Anda adalah pengunjung di Sya & Abp's Blog yang ke :
|
 |
 |
 |
 |
 |
 |
|
|
 |
 |
Wednesday, September 07, 2005
PD yang Hancur..
Ketika ku benar benar sedang terpuruk tak ada satu hal pun yang enak dikerjakan, selain mencurahkan segala rasa ini lewat kata, entah kenapa, kali ini aku nggak berusaha mencari seseorang terpercaya yang mau mendengarkan permasalahanku, takut harga diriku makin tak berharga , takut jadi aib, takut , dan takut takut lainnya. Ah biarlah my kompi saja yang tau perasaanku hari ini. Kompi, dengarlah…. Hari ini aku sedang benar-benar terpuruk, entah membutuhkan berapa waktu lagi untuk ku agar bisa merecovery diri. Setelah kemarin kudapati tamparan keras yang telah meremuk redamkan PD yang kumiliki, menghancurkannya jadi berkeping-keping, runtuh seketika saat itu, Meski saat itu juga dituntut tampil di depan orang banyak, entah kenapa tanpa rasa PD (karena telah hancur berkeping-keping sebelumnya) aku bisa tampil dengan begitu cueknya, yah, untung aku masih punya CUEK, Si cuek yang biasanya tak mau kuajak berteman, kali itu benar-benar menjadi dewa penolongku. Mungkin si cuek tau kalo PD ku sedang hancur, makasih ya cuek. Tanpamu, mungkin kemaren aku benar-benar tlah menjadi sosok yang tersingkir dari peradaban.
Siapa yang salah ?
Aku ngga tau, batinku serasa ingin protes dan aku ngga mau disalahkan, sesuatu yang benar-benar tanpa kusadari, ternyata telah merugikan orang lain. Tapi ini bener-benar sesuatu yang aku tak tahu kalo kusalah, lalu salah siapa dong? Oh Tuhan... layakkah kupertanyakan ini kepadamu? Bukan.... bukan aku ingin menjustifikasi diriku sendiri..., cuma aku butuh sedikit penghiburan, agar tak semua kesalahan terlimpahkan padaku, agar jiwaku mendapat sedikit penguatan, untuk berbenah diri.
Berbenah diri? Ya... dengan segala tools yang ada di hati, kucoba sekuat tenaga untuk kembali memunguti satu persatu PD ku yang telah remuk hancur berkeping-keping, satu-persatu kuambil kepingan itu, dari mulai kepingan yang terkecil yang sudah tak bisa terpegang oleh tangan hampa, harus dengn pinset atau alat sejenisnya, sampai kepingan terbesaar yang masih bisa terpegang, semuanya aku lem satu persatu dengan telaten, agar meski telah retak dia bisa kembali seperti semula, meski kuyakin takkan sesempurna awalnya.
Kecewa Menambah Derita
Ternyata usahaku untuk berbenah diri tak semudah bayangan, ketika sedang berupaya merecovery diri, seketika kutemukan hal yang menghalanginya, ternyata jalan tak semulus jalan tol, yah. Apalagi kalo bukan si kecewa, si kecewa yang benar-benar selalu kubenci kedatangannya ke muka bumi ini, sesuatu yang kurasa tak perlu hadir ke dunia, kenapa sih si kecewa ini tidak sepengertian si cuek? Ketika si cuek hadir untuk mencoba menolongku agar tak terlalu memurukkan diri, tapi kenapa si kecewa justru sebaliknya, hadir untuk lebih membuatku kian terpuruk ketika ku sedang berusaha tuk bangkit dari keterpurukan... Oh God... ini ya yang namanya ujian... oke akan kujalani semua ujian yang Kau berikan....
Ketika Sabar Datang Aku sangat bersyukur kepada Allah, Sang pencipta Sabar. Ku yakin Engkau memang maha Sabar sekaligus Maha Pemurah, sehingga Sabar yang Kau punya itu tak hanya untuk Mu tetapi juga Kau bagi-bagikan ke umat Mu. Aku merasa sangat beruntung telah Kau anugerahi kesabaran. Dan semoga aku bisa memanfaatkan anugerahmu ini dengan sebaik-baiknya, untuk berbenah diri, melawan kecewa yang mendera, mengembalikan semangat hidup dan PD yang retak menjadi lebih sempurna seperti sedia kala.
Butuh kehadiran Tekad Setelah sabar hadir, satu lagi yang kubutuhkan kehadirannya saat ini adalah tekad. Tekad yang bulat, sebulat bulan purnama, oh bukan ya? Bulatnya bulan purnama kian hari kian pudar kebulatannya, aku tak ingin yang seperti itu, yang kuinginkan adalah bulat yang konsisten, seperti bumi, meski tak bulat sempurna, tapi dia konsisten, akan bulat-bulat saja dan hanya akan hancur ketika hari akhir tlah tiba.
Saatnya Merecovery Diri Kini saatnya... ayo mulai lah, jangan biarkan dirimu terus terpuruk.... lawan lah !... jangan mengalah pada syetan , musuh nyata bagi umat manusia, kalau kau terus memurukkan diri, syetan akan tertawa bahagia. Menertawakan kelemahanmu. Syetaaaannn..... ! Ayo lawan akuuuu.............! Aku akan melawanmu sekuat tenaga , dengan berupaya merecovery diriku supaya tak terpuruk lagi. ”Aku berlindung dari Godaan syetan yang terkutuk..” dan dengan bacaan basmalah ”Dengan menyebut asma Allah yang maha pengasih dan penyayang..” kumulai upaya ini, membenahi diriku sendiri, mulai saat ini !...
Depok, 20 Agustus 20005 Ketika kuberazzam tuk berbenah diri.
Posted at 11:32:25 am by tasyafa
Permalink
Tuesday, August 16, 2005
Dalam kehidupan ini, seorang wanita tidak mungkin hidup sendiri, sehingga dia harus memiliki tetangga yang bisa diajak berinteraksi. Sebagaimana seorang wanita harus berusaha dengan gigih agar hubungannya dengan keluarga dan suaminya sukses, karena keberadaannya ditengah-tengah mereka yang selalu membutuhkan mereka.
Oleh karena itu, untuk bisa sukses dalam hidup dengan tetangga maka dia harus menyelamatkan hidupnya dari berbagai macam problem dengan tetangga serta menghindari agar tidak menyakiti mereka. Hendaklah hidup bersama mereka dengan tenang dan nyaman, penuh kerukunan serta tidak saling membahayakan.
Wanita yang dicintai Allah dan Rasul adalah wanita yang berbuat baik kepada tetangga
"Jika kalian mencintai, niscaya Allah dan Rasul-Nya akan mencintai kalian. Maka tunaikanlah jika kalian diberi amanat, jujurlah jika kalian berbicara, dan berbuat baiklah kalian kepada orang yang bertetanggaan dengan kalian "
Sebagaimana telah diturunkan perintah untuk berbuat baik kepada tetangga, maka diturunkan pula larangan untuk menyakitinya dimana Rasulullah SAW bersabda
"Barangsiapa beriman kepada Allah dan Rasul-Nya maka hendaklah dia tidak menyakiti tetangganya "
Seorang wanita lebih didominasi oleh dimensi perasaan. Dia tidak seperti laki-laki dalam menjalin hubungan dengan tetangga. Pada saat dimana laki-laki dalam menjalin hubungan dengan tetangga berdiri pada satu batas tertentu yang tidak bis dilanggar, maka dalam banyak kesempatan, seorang wanita jauh melangkah dalam menjalin hubungan dengan tetangganya serta menembus benang merah yang cukup banyak yang seharusnya tidak boleh ditembus, sehingga seringkali hubungan ini mengalami kegagalan.
Cukup banyak bentuk hubungan seorang wanita dengan tetangganya yang sampai menembus batas kewajaran dimana dua rumah menjadi datu, sehingga tidak ada hal sekecil apapun dari keduanya melainkan masing-masing rumah mengetahuinya melalui wanita tersebut. Akhirnya muncul perselisihan antara dirinya dengan suaminya karena tindakannya membuka rahasia suami dan rumah tangganya kepada orang lain.
Diantara hal yang harus menjadi perhatian wanita dan sekaligus dia kerjakan sehingga dia berhasil dalam menjalin hubungan dengan tetangga dan mendapatkan cintanya adalah : TIDAK BERLEBIHAN DALAM BERBAUR DENGAN TETANGGA dan tidak terlalu sering mengunjunginya. Tetapi mengunjunginya pada waktu-waktu tertentu saja, sebagaimana perintah Rasul
"Berkunjunglah jarang-jarang, niscaya akan menambah kecintaan"
Semakin banyak berbaur dengan tetangga hanya akan menimbulkan kejenuhan dan menyebabkan ketidak sukaan bahkan bisa menimbulkan kebencian.
Sumber : Menjadi Wanita Sukses dan Dicintai
By : Syaikh Adnan Ath-Tharsyah
Posted at 2:33:23 pm by tasyafa
Permalink
Friday, August 12, 2005
Masa sembilan bulan mengandung kunikmati dari hari ke-hari dengan perasaan senang, bahagia sekaligus khawatir, akankah janin berkembang dan lahir normal tanpa kurang sesuatu pun. Bayangan sesosok bayi mungil nan lucu dengan celotehnya yang riang dan menyenangkan selalui mewarnai hari-hari dimasa kehamilan. Rasanya, ingin segera kutimang, kudekap erat , kususui dan beribu ribu peluk cium kuhadiahkan untuk si kecilku begitu dia hadir kedunia ini.
Akhirnya dia hadir kedunia ini, satu hal yang tak terpikirkan sebelumnya dibenakku adalah, bahwa begitu dia lahir, dia akan langsung jadi idola di keluarga dan lingkungan sekitarku, Aku yang masih tergolek lemas dan luka bekas operasi sesar yang masih menyisakan rasa perih, terasa makin perih ketika menyadari bahwa bayiku tak berada disampingku, sikecilku berada dalam box di sudut ruangan, disekelilingnya telah mengerubunginya anggota keluarga besarku dengan penuh rasa takjub, senang dan bangga menyambut kehadiran sikecilku ke dunia ini, mereka mengerubutinya, menyentuhnya, menyiuminya, dan mereka semuanya meninggalkanku seorang diri dalam keperihan. Sebenarnya ingin kukatakan ke mereka, jangan sentuh bayiku sebelum aku menyentuhnya lebih dulu, Untung pikiran jernihku masih jalan, sehingga tak kubiarkan Keegoisanku itu mengendalikan otakku, Tapi.. Rasa ini….Olalala….. inikah yang namanya Baby Blues…..??.. Tapi aku sendiri juga blom mengerti apa sebenernya definisi baby blues itu, Sebuah rasa merasa terabaikan karena kehadiran si kecil, atau rasa cemburu karena orang lain lebih dekat dengan babyku, mungkin begitu.
Ternyata, Anakku tak hanya milikku…. Dia juga milik ayahnya, milik kakek neneknya, milik om-tante2 nya, milik tetangga-tetangga nya. Kesadaran itu makin hari makin kupupuk dalam hatiku, agar tak pernah lagi ada rasa cemburu ketika anakku seharian digendong neneknya saat datang berkunjung ke rumah, ketika tawanya terdengar amat riang saat Omnya datang dan menyapanya dengan sayang, atau ketika seharian dia bersama pengasuhnya, atau ketika dia lebih senang main dengan teman-teman kecilnya disebelah rumah, atau ketika anakku jadi rebutan para tetangga untuk menggendongnya.
Aku harus bisa lebih berbagi sesama, tidak egois, hanya ingin menguasai anakku seorang diri, toh mereka juga mendekati anakku dengan cinta, bukan dengan benci.
Lambat laun rasa “terabaikan” itu hilang dengan sendirinya, dan tergantikan dengan rasa bangga dan bersyukur (tanpa ada niat untuk menyombongkan diri). Bangga karena ternyata anakku bisa diterima dilingkungannya dan keluarganya dengan baik, bangga karena banyak sekali orang yang sayang kepadanya. Rasa sayang yang tulus ikhlas tanpa balas.
Anakku tak hanya milikku, tapi juga milik lingkungannya, milik kehidupan. Yang Pasti dia adalah Milik Allah, Sebagai anugerah sekaligus amanah yang penuh ujian. Hingga andai suatu saat Dia ingin mengambilnya aku harus ikhlas mengembalikannya pada Sang Empunya, yang juga sebagai Pemilik diriku, Pemilik Alam semesta raya.
Posted at 11:02:44 am by tasyafa
Permalink
August 5, 2005
Ketika Anakku Sakit.
Andai saja rasa sakit itu bisa dipindahkan padaku, aku akan sangat bersedia, biarlah aku yang menderita, asal jangan anakku yang merasakannya. Menghadapi hal ini, yang paling dibutuhkan adalah rasa tenang dan tidak panik, “Don’t be panic, don’t be panic …” Iya sudah, rasa panik sudah berhasil kubuang jauh-jauh dari hatiku, kucoba menghadapi keadaan ini dengan sabar, namun ketika tiba-tiba si kecil takkuasa menahan rasa mual diperutnya, dan tersemburlah seluruh isi perutnya, berserakan ke lantai, berceceran kemana-mana, rasa panik itu kembali datang menyergapku, apalagi ketika segerombolan kata ungkapan menyalahkan aku, datang menyerbuku, mendera batinku yang kala itu juga sedang tidak berada pada posisi yang stabil, dan kondisi fisikku yang juga kurang fit, menstimulus rasa panik untuk kembali hadir, menguasai sukmaku.
Andai saja aku tidak memikirkan efek buruk kepada anakku, aku ingin sekali berteriak untuk menghentikan serbuan dan semburan kata-kata yang menyerangku itu, yang menyalahkanku, seolah-olah akulah sumber penyebab sakitnya anakku, hanya karena aku tak mau buru-buru ke dokter. Kusadar, bukan itu solusi bijaknya. Ya Allah… ternyata aku tak setabah ummu Salamah, yang tetap tenang meski menghadapi kenyataan bahwa buah hatinya Kau panggil ketika masih belia. Tanpa rasa panik, tanpa emosi…
Kali ini, aku masih bisa menahan gejolak energi negative itu, sehingga yang keluar ke permukaan bukan semburan magma dari letupan gunung berapi emosi tapi hanya butiran-butiran air yang mengucur dari mataku namun makin lama makin deras membasahi pipi. Shalat… Shalatlah…. bisik hatiku, kemudian kuambil air wudhu, kubasuh pelan-pelan muka tangan - kakiku, kurasakan getarannya, sebentar lagi aku akan menemuiNya dalam doa, bukankah hanya Dia, Allah, tempat kita kembali dan tempat kita meminta pertolongan ? “Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat“ ( QS Al-Baqarah :153 )
Dr Aidh Al-qarni dalam “La Tahzan” nya mengatakan bahwa rasa sakit tidak selamanya tak berharga, sehingga harus dibenci. Sebab, mungkin saja rasa sakit itu justru akan mendatangkan kebaikan bagi seseorang. Biasanya, ketulusan sebuah doa muncul tatkala rasa sakit mendera. Demikian pula dengan ketulusan tasbih yang senantiasa terucap saat rasa sakit terasa.
Aku tak membenci rasa sakit, aku hanya membenci keadaan - keadaan yang tak seharusnya dan tak sepantasnya dilakukan kala ada yang sakit, Menyalahkan orang lain karena sakit datang pada seseorang, bukanlah satu cara yang bijak untuk dilakukan, apalagi perbuatan itu dilakukan saat rasa sakit itu sedang hangat-hangatnya datang, toh juga tidak akan menciptakan solusi justru akan memperparah keadaan, menimbulkan emosi dan rasa panik yang berlebih -lebihan.
Di malam yang mencekam, kala ku mengambil tempat diujung ruangan yang sepi, kutenangkan diri ini, kusampaikan semua padaNya dengan rasa tulus ikhlas kumohonkan kesembuhan untuk sang buah hati tercinta. Perlahan-lahan ketenangan merambati kalbu, rasanya ada sesuatu yang hangat yang makin lama makin hangat dan menghalau dingin dan bekunya hatiku, mengusap cucuran airmata derasku, mencampakkan kepanikanku ke tempat pembuangan sampah nun jauh di lorong sana, mengembalikan seluruh pikiran positif, menentramkan kalbu dan semakin memantapkan hatiku akan kebenaran firman-Nya yang berbunyi “ Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hatimu akan menjadi tenteram..”
Dengan berdzikir kepada Allah, awan ketakutan, kegalauan, kecemasan dan kesedihan akan sirna Bahkan, dengan berdzikir kepadaNya segunung tumpukan beban kehidupan dan permasalahan hidup akan runtuh dengan sendirinya. Semakin banyak anda mengingat Allah, pikiran anda akan semakin terbuka, hati anda akan semakin tenteram, jiwa anda semakin bahagia dan nurani anda semakin damai sentausa. Itu, karena dalam mengingat Allah terkandung nilai-nilai ketawakalan kepada-Nya, keyakinan penuh kepadNya, ketergantungan diri hanya kepadaNya, kepasrahan kepada-Nya.
Jadi, jika anak sakit, janganlah bersedih, karena sesungguhnya Dia sedang mengajak kita untuk berlatih sabar untuk menerima segala ketentuanNya, dan boleh jadi justru Dia sedang menegur kita agar kita lebih rajin dan tulus berdoa dan berdzikir padaNya. Kini kusadari bahwa ketika sakit, banyak hikmah yang bisa diambil sebagai pelajaran berharga.
Depok, 5 Agustus 2005
Posted at 10:56:15 am by tasyafa
Permalink
Thursday, July 14, 2005
Jika ada yang bertanya padaku tentang Apa yang kuinginkan sekarang,
Apakah Sebuah Villa megah di tepi pantai Indah?
Jawabnya, TIDAK, karena aku sudah punya gubuk sederhana di pinggir sawah.
Apakah Sebuah Mobil mewah dengan teknologi terbarunya ?
Jawabnya, TIDAK, karena aku sudah punya gerobak tua yang mengantarku kemana kumau.
Apakah Karir yang mantap dan menjanjikan?
Jawabnya, TIDAK, karena sawah-sawah para juragan besar itu masih membutuhkan tenagaku.
Apakah Ketenaran sampai pelosok negri?
Jawabnya, TIDAK, karena burung-burung dara kesayanganku masih setia menyampaikan surat-suratku untuk para sahabat di pelosok negeri ini.
LALU,
Apa yang kau inginkan sekarang?
Yang kuinginkan sekarang
Allah menganugerahiku Sebuah Shalat Yang Khusyu.
Itu saja....
Posted at 12:59:03 pm by tasyafa
Permalink
Tuesday, July 12, 2005
Kecewa menggusur Udara,
Menyebar mengisi seluruh ruang hampa,
Lewat hidung ku menghirupnya
Dalam setiap desahan nafasku
Masuk perlahan-lahan,
Menghampiri kerongkonganku sejenak,
Terus melanjutkan perjalananya ke paru-paru.
Disana, dia berubah menjadi sebuah energi maha dahsyat
Energi Maha dahsyat itu bernama AMARAH yang siap menghancurkan dan meluluhlantakkan sebuah PERSAHABATAN.
Ooohhhhhhh....
Rasanya kuingin berhenti bernafas saja, agar PERSAHABATAN ini tetap utuh.
Rasanya kuingin berhenti bernafas saja, jika Kecewa masih saja menghalau,
menggusur Udara.
Tapi bukan begitu solusi arifnya.
Halau Kecewa, kembalikan Udara, Selamatkan PERSAHABATAN.
Disepertiga malamku, kala ku berdoa tuk menghalau KECEWA.
Posted at 9:54:17 am by tasyafa
Permalink
Tuesday, July 05, 2005
Kura-Kura
Ada satu keluarga kura2 memutuskan untuk pergi bertamasya. Dasarnya kura2,
dari sononya memang sudah serba lambat, untuk mempersiapkan piknik ini saja
mereka butuhkan waktu 7 tahun. Akhirnya keluarga kura2 ini meninggalkan
hunian mereka, pergi mencari tempat yang cocok untuk kegiatan piknik
mereka. Baru ditahun kedua mereka temukan lokasi yang sesuai dan cocok!
Selama enam bulan mereka membersihkan tempat itu, membongkari semua
keranjang2 perbekalan piknik, dan membenah-susuni tempat itu. Lalu mereka
baru sadar dan lihat bahwa mereka lupa membawa garam. Waduh, sebuah piknik
tanpa garam? Mereka serempak setuju dan berteriak itu bisa menjadi bencana
luar biasa. Setelah panjang lebar berdiskusi, kura termuda yang diputuskan
terpilih untuk mengambil garam dirumah mereka. Meskipun ia termasuk kura
tercepat dari semua kura2 yang lambat, si kura kecil ini merengek, menangis
dan me-ronta2 dalam batoknya. Ia setuju pergi tapi asal berdasarkan satu
syarat: bahwa tidak satupun boleh makan sampai ia kembali.
Keluarga kura itu setuju dan sikura kecil ini berangkatlah.
Tiga tahun lewat dan kura kecil itu masih juga belum kembali. Lima tahun.... enam tahun ..... lalu memasuki tahun ketujuh kepergiannya,
kura-kura tertua sudah tak tahan menahan laparnya. Ia pun mengumumkan bahwa
ia begitu lapar dan akan mulai makan dan mulai membuka rotinya.
Pada saat itu, tiba2 muncul si kura-kura kecil dari balik sebatang pohon
dan berteriak: "LIHAT TUHHHH! Benar kan !? Aku tahu kalian memang tak akan
menunggu. Achhh, kalau begini caranya aku nggak mau pergi mengambil garam."
*Sebagian dari kita memboroskan waktu sekedar cuma menunggui sampai orang
lain memenuhi harapan kita. Sebaliknya, kita begitu kuatir, prihatin, sering2 malah terlalu memperdulikan apa yang dikerjakan orang lain sampai-sampai dan malahan kita cuma berpangku tangan tanpa berbuat apapun.
Posted at 5:12:48 pm by tasyafa
Permalink
Tuesday, June 28, 2005
Amerika menyerangku dalam mimpi...
Kali ini Amerika memang sudah benar-benar menggila, semakin arogan dan 'sok' berkuasa. Dengan dalih ingin memberantas terorisme, Amerika menyerang Indonesia, daerah-daerah yang dianggapnya sebagai sarang terorisme adalah Yogya, Solo dan sekitarnya. Dan di Yogyalah, Amerika mendirikan pangkalan angkatan bersenjatanya. Serangan-serangan pun dilancarkannya ke daerah Yogya dan sekitarnya, tak luput pula ke wilayah kota Magelang, dimana disana berdiri pangkalan angkatan bersenjata republik Indonesia.
Sementara itu, di sebuah rumah, di salah satu desa terpencil di kota Magelang, Aku sedang berkumpul dengan seluruh keluarga, menikmati masa liburan dan bersilahturahmi dengan keluarga besarku, sebuah kesempatan yang mungkin hanya setahun dua kali bahkan hanya sekali bisa dilaksanakan. Keasyikan kami yang sdang bercengkerama tiba-tiba terganggu dengan datangnya suara-suara desingan peluru. " Kita diseraaang...! " teriak Bapak dari luar rumah sambil berlari kedalam rumah memberitahuku, belum sempat kami keluar rumah, tiba-tiba sebuah bom dijatuhkan dari pesawat tempur Amerika, tepat di atas atap rumah orang tuaku... " De Buuummmmmmmm..." suaranya menggelegar, sesaat itu juga rumah orangtuaku hancur tak bersisa namun kami semua berhasil selamat. Tak ada rasa takut sedikitpun dalam hati kami, tak terkecuali si kecil yang ada dalam gendonganku, kami semua bersemangat sambil berteriak " Allahuu Akbar...! " Mengumandakan semangat jihad yang membara !!....
Dan kemudian aku terbangun, kudengar gema suara takbir dari pengeras suara masjid di kampung sebelah. Kukucek mataku dan baru kusadari ternyata aku baru saja bermimpi. Ternyata, Amerika menyerangku dalam mimpi...
Posted at 12:17:31 pm by tasyafa
Permalink
Thursday, June 23, 2005
Hari ini hari kamis, berarti seragam stelan blazer dan rok biru ini musti kupake, kalau gak mau ditegur HRD , dianggap ngga' taat 'ma peraturan perusahaan,hehehehe..
Mobilitasku bakalan jadi agak lambat goyang nih... , dengan rok rada-rada nye-pan gini, ditambah sepatu baru yang belon bener-bener mau 'dikendarai' oleh kakiku ini, duh..memang jadi agak merepotkan... hikss... ingat, katanya mau feminim, gitu aja kok ngeluh... !
Tadi berangkat memang rada telat, sialnya, eh astagfirullah.. ( apa ya kata-kata yang lebih halus dari sial..) naas kali ya? ya udah diganti, eh naasnya, dengan 'uniform' ku yang kayak begini aku jadi ngga bisa lari kenceng ngejar kereta yang sudah " Tang ting ting tung teng...." mau berangkat itu... , sekuat tenaga akau berlari sambil sedikit menyibakkan rok ku keatas, cuma sedikit lho.. biar lariku agak lebih cepat, memburu kereta yang udah ngebet mau jalan, ngga mau diajak kompromi !!
Untung.... eh Alhamdulilah... aku bisa masuk ke gerbong, se-kenanya aja, asal masuk, gak perlu di gerbong 3 gerbong favoritku, yang penting bisa masuk dulu deh... , hhhhhauhhh..legaa rasanya.., pintu kereta masih terbuka, kuliat si abang pengamen tunanetra itu sedang terjebak dalam lautan manusia dalam krl express itu, kebingungan dia nyari pintu yg terbuka, pengennya mau keluar.. , udah injury time banget, sementara dia masih berusaha keras melepaskan himpitan-himpitan dari badan-badan kekar di sekelilingnya, sontak.. refleks banget...kutarik si Abang buta itu, biar mendekat ke pintu.. yah.. malang tak bisa ditolak rupanya, meski udah kutarik ke deket pintu, si abang tetep gak bisa keluar, karena tiba-tiba..." Sreettttt..." pintu kereta tertutup otomatis...
Lagi gak beruntung nasibmu Bang..., bang... , Eh Si abang cuma nyengir, meringis... !! yah itung2 jalan-jalan sampe stasiun Gambir deh Bang.... ! Skali-kali berpetualang ke Jakarta kan gak-papa, jangan ngendon di Depok Aje... kekeke...
Posted at 10:05:12 am by tasyafa
Permalink
Monday, June 20, 2005
Kenangan Kamar Merah Jambu
Tamu-tamu mulai beranjak pulang satu-persatu, tinggal kerabat dekatku, orangtua, mertua dan adik-adikku yang masih memberesi kursi-kursi tamu dan mengembalikan layout ruang tamu seperti semula, suasana berkabung masih terasa meski bendera kuning yang sedari pagi dipasang di depan rumah sudah dicabut. “ Biar tidak berketerusan dalam duka ..” alasan suamiku ketika menyuruh untuk melepas bendera kuning tanda berkabung itu kepada adikku. Sementara aku masih mengurung diri dalam kamar berdinding warna merah jambu yang penuh dengan gambar-gambar kartun lucu, kupegangi selimut kuning lembut itu, baju-baju, boneka dan seperangkat mainan bayi lainnya di kamar merah jambu, berusaha mengingat-ingat suara canda tawa dan tangis lucu anakku, berharap si kecilku Jasmine hadir kembali disini. Tapi itu semua sudah tidak mungkin lagi, Jasmine kecilku telah pergi menghadapNya, tadi malam.
****
Entah kenapa kehamilanku yang kedua ini terasa lebih berat jika dibandingkan dulu dua tahun yang lalu, ketika aku sedang mengandung Fariz, anak pertamaku. Hampir setiap hari aku selalu mengalami morning sickness, selalu tak kenal tempat dan waktu. Muntah-muntah adalah suatu hal yang seringkali kualami, di kantor, di jalan bahkan ketika di keretapun pernah kurasakan hal itu. Muntah-muntah dihadapan banyak orang. Rasa mual yang berlebihan membuat hilang seluruh selera makanku akibatnya tubuhku lesu dan lemas, wajahku pucat dan mataku pun sayu. Keadaan ini masih berlangsung sampai usia kehamilanku yang sudah menginjak trisemester ke-dua ini. Beruntung bos ku di kantor memahami betul keadaanku sehingga aku tidak dibebani tugas yang berlebihan.
“ Apa dok….? Ada yang tidak normal dengan kandunganku…?” Kupegang erat jemari suamiku sambil berdebar-debar menunggu keterangan lebih lanjut dari dokter Nining, dokter kandunganku di rumah sakit Mama-Mia. “Dari hasil USG kelihatan bahwa plasenta pada bayi ibu terletak tepat di jalan keluar bayi sehingga jika posisinya masih seperti ini maka Ibu tidak akan bisa lahir normal… “ jelasnya sambil menenangkanku.
“Plasenta previa, ya dok? “ hmm, inilah manfaatnya kalau aku ikutan mailing-list berbadan-dua, yaitu mailing list yang dikhususkan untuk tempat saling berbaginya pengetahuan bagi para ibu yang sedang berbadan dua.
“Ya, istilah medisnya begitu bu…, tapi Ibu nggak perlu khawatir, karena setiap bulannya kita akan memantau perkembangan letak plasenta ini, masih ada kemungkinan bayinya akan berputar dan plasentanya kembali ke posisi atas. “
Yah begitulah dokter Nining, sosok dokter berjilbab yang murah senyum dan lemah lembut inilah yang kupilih sebagai dokter kandunganku setelah sebelumnya aku sempat memilih dokter kaandungan laki-laki, namun karena risih rasanya kalau setiap kali diperiksa harus dibuka-buka dan dielus-elus perut oleh seorang laki-laki, meski dia seorang dokter, akhirnya aku memutuskan untuk berganti ke dokter Nining yang cantik, murah senyum dan smart itu.
Sekembalinya dari rumah sakit itu kemudian langsung kucari beberapa buku mengenai kehamilan, dan searching informasi di internet serta mengirimkan pertanyaan ke mailing list berbadan dua dan mailing list kesehatan guna menanyakan tentang Plasenta Previa . Banyak pengetahuan dan saran yang kudapatkan dari sana, ternyata kondisi ini riskan sekali terhadap pendarahan, ada yang menyarankan supaya aku banyak sering-sering ngepel jongkok agar janin bisa berubah posisi, ada yang menyarankan supaya diurut dan ada yang menyarankan agar lebih sering untuk sholat malam, dan saran yang terakhir inilah yang akhirnya kupilih sebagai salah satu cara mengatasi permasalahanku. Hingga ketika bulan berikutnya aku memeriksakan kandunganku lagi, dokter Nining memberitahuku bahwa ternyata letak janin sudah berubah, berputar keatas atau posisinya normal. “ Alhamdulilah….” Bisik suamiku sambil mengecup keningku, Aku tersenyum senang.
*****
Bayi perempuanku lahir dengan selamat secara normal, Namanya Jasmine Fitria yang berarti melati suci, dia lahir dengan berat badan 3,5 kg dan panjang 52 cm, kulitnya putih bersih, hidungnya mancung persis sekali dengan wajah Ayahnya. Si Sulung Fariz lah yang kelihatan paling berbahagia dengan kelahiran adiknya ini, diciuminya adiknya terus menerus sementara aku sedang memberikan ASI ku untuk si kecil, Colostrum yang ada pada ASI 48 jam pertama ini akan sangat bermanfaat untuk gizi si kecil, aku bertekad akan memberikannya ASI ekslusif selama 6 bulan.
Berita yang sangat mengejutkan terjadi ketika sebulan kemudian kami kembali ke RS Mama-Mia untuk memeriksakan si kecil ke dokter specialis anak Dr Andi, setelah kutemukan si kecil Jasmineku pingsan tertelungkup di dalam boxnya beberapa menit sebelumnya, kecurigaanku dan suamiku mulai terasa ketika kulihat dokter Andi tegang memeriksa detak jantung Jasmine, dia setting ulang peralatan-peralatan pendeteksi canggiih itu, hasilnya dokter Andi tampak semakin tegang dan peluhnya berkeringat. Wajah pucatnya tak bisa disembunyikan dari balik kacamatanya. “ Tolong beritahu kami, ada apa sesungguhnyaaa dok? “Tanya suamiku tak sabar.
“ Tadi ketika saya periksa, saya tidak mendengar detak jantung Anak Ibu…”
“ Maksud dokter apa? “
“ Ternyata bayi Ibu, sudah meninggal …”
“ Maaf dokter, apa dokter tidak salah ? “ Tanyaku tak percaya mendengar berita ini.
“ Tidak bu, Sudah beberapa kali saya periksa, tapi detak jantung Anak Ibu tetap tidak terdengar….”
“Ini adalah kasus SIDS (suddent Infant Death Syndrome ) atau sindrom kematian bayi mendadak, hingga saat ini penyebab terjadinya kasus ini belum jelas, masih menjadi sebuah misteri dalam dunia kedokteran, kami sudah berusaha sekuat tenaga tapi Allah berkehendak lain… “
“ Ya Allah….. Innnalillahi Wa Inna Ilaihi Rajiu’un “ desis Suamiku. Dia genggam tanganku erat, seolah ingin memberikan kekuatan hati padaku yang saat itu bagaikan tertikam ribuan pisau tajam, kemudian dia mendekapku erat, kehangatan tubuhnya justru membawaku ke sebuah negeri yang entah mengapa kurasakan makin lama makin gelap, gelap dan dingin, ternyata aku Pingsan !!! …….
***
“Sudahlah bunda … Ikhlaskan Jasmine pergi, jangan terus-terusan kauratapi kepergiannya …. “ Suara suamiku mengagetkanku sekaligus menyadarkanku dari lamunan panjangku, aku masih berada dalam kamar merah jambu, kemudian diambilnya selimut lembut warna kuning itu dari tanganku, selimut itu kini telah basah oleh cucuran deras air mataku .
Masih di kamar merah jambu, dalam perenunganku, kusadari ternyata begitu lemah imanku, ternyata aku tak sekuat Ummu Sulaim istri Abu Thalhah yang ketika anaknya meninggal dunia, beliau bisa dengan tenang dan tabah mengabarkan berita duka itu kepada suaminya setelah sebelumnya melayani kebutuhan suaminya terlebih dulu. Ummu sulaim begitu sabar, tenang dan tidak terburu-buru.
Masih di kamar merah jambu, dalam perenunganku, kubaca lagi kumpulan hadist shahih yang mengisahkan tentang Ummu Sulaim, tokoh wanita idolaku.
Dari Anas Bin Malik berkata bahwa telah meninggal putera Abu Thalhah sementara Abu Thalhah sedang pergi. Ketika isterinya melihat anaknya telah meninggal dunia maka ia berdandan dan anaknya disisihkan di pojok rumah. Ketika Abu Thalhah datang maka beliau bertanya, “ Bagaimana keadaan si kecil ?” Ia menjawab, “ Telah tenang jiwanya dan saya berharap ia lebih tenang hidupnya.” Setelah bermalam dan telah mandi junub dan beliau ingin keluar, sang isteri memberi tahu bahwa anaknya telah meninggal, lalu beliau shalat bersama Nabi dan mengabarkan tentag kejadian di rumahnya. Maka Rasulullah bersabda, “ Semoga Allah memberkahi kamu berdua pada malam hari kalian “ , salah seorang Anshar berkata , “ Kami melihat Allah telah memberikan karunia kepada Abu thalhah sembilan anak yang hafal Al-quran semua.” [HR Bukhari Muslim]
Masih di kamar merah jambu, dalam perenunganku, terinspirasi dari kisah Ummu Sulaim, aku bertekad akan bangkit dari kedukaanku, tegak melangkah menyongsong masa depanku.
- || -
Depok, 18 Juni 2005.
Teruntuk seorang temanku yang baru saja kehilangan buah hatinya, Sabarlah akan ujian ini .. Allah pasti punya rencana yang lebih bagus untukmu…
Posted at 1:18:47 pm by tasyafa
Permalink
|
 |
 |
 |
 |
 |
 |
|
|